CINTA PERTAMA DAN TERAKHIR

sebutlah seorang gadis yang memilih hidup dalam cangkang yang dibangunnya sendiri. Mengikat hati dan menutup pintunya bagi orang lain. Entah telah berapa lama ia begitu.
Tiba-tiba hadir sosok yang mampu mengetuk pintu itu, tanpa peringatan sebelumnya. Gerak-gerik aneh di bawah jendela yang mambangkitkan rasa ingin tahu si gadis. Ketika mereka telah bertatap muka, si gadis semakin yakin bahwa lelaki di hadapannya ini memang aneh. Ia tidak berbicara sepatah pun. Hanya bergerak kesana kemari, lalu bergaya seolah memotret si gadis padahal tak ada kamera di tangannya, dan menunjukkan hasil "jepretannya" itu.
Si gadis pun berlalu, ingin masuk kembali ke dalam cangkangnya yg nyaman. Namun lelaki itu tidak menyerah begitu saja. Tanpa lelah mengejar, bahkan ia bawakan layang-layang cantik untuknya. Seperti batu yang retak oleh tetesan air, cangkang keras si gadis mulai meleleh. Perlahan ia membuka pintu hati dan menyambut ajakan lelaki itu untuk bermain.
Dunia baru ini begitu melenakan si gadis, ia bahagia! Bahkan hingga saat sang lelaki mengungkapkan perasaan cintanya (tentu bukan dengan kata-kata), ia menyambutnya dengan suka cita malu-malu. Begitulah, hari-hari indah itu terus berlanjut, mereka berbagi kebahagiaan bersama dalam bahasa tubuh saling memahami satu sama lain.
Sampailah pada suatu momen si gadis mengundang sang pujaan hati untuk bersantap bersama seperti layaknya pasangan kekasih. Hidangan elegan telah disiapkannya sendiri sepenuh hati. Ia sangat berharap sang kekasih menyukainya. Sambil menyesap minumannya sendiri ia pun mempersilakan si lelaki untuk mulai bersantap. Saat selanjutnya membuat si gadis tiba-tiba tersentak. Ya, si lelaki minum, tapi ia hanya bersikap seolah memegang gelas dan meminum udara kosong, sedangkan gelas itu sendiri masih di tempatnya semula. Ia makan dengan lahap, tapi yang ia makan itu tidak terlihat, dengan sendok garpu imajiner. Sementara spaghetti buatan si gadis masih dalam porsinya semula, tertata rapi di atas piring. Si lelaki tidak menyadari tatapan kecewa kekasihnya, melakukan semua itu dengan wajar. Karena bukankah memang seperti itu hari-hari yang mereka lalui selama ini.
Si gadis pun berpikir keras. Ia menyadari ternyata mereka hidup dalam dunia yang sama sekali berbeda, tidak sama seperti sangkaanya selama ini. Lelaki itu tenggelam dalam dunia imajinernya sendiri sehingga tidak bisa lag membedakan antara kenyataan atau khayalan. Si gadis merasa ia sudah tidak mampu lagi mengikuti langkah lelaki itu. Ia tidak bisa hidup seperti itu. Berpura-pura akan adanya sesuatu yang sesungguhnya tidak ada. Dan yang sangat meyakinkannya adalah jika lelaki itu menganggap hidangann darinya hanyalah khayalan, maka dirinya pun berarti hanyalah imajinasi bagi lelaki itu. Maka cerita cinta mereka selama ini ini juga hanya ilusi belaka.
Akhirnya si gadis memutuskan bahwa ia tidak bisa meneruskan kebersamaannya dengan si lelaki. Ia menyampaikan salam perpisahan dengan tanpa kata. Si gadis berjalan tanpa menoleh lagi dengan wajah sedih sang lelaki di belakangnya. Lelaki itu pun berlalu dalam kebisuannya.
Namun kemudian ada sesuatu mengusik langkahnya. Selembar foto tergeletak di jalan. Potret dirinya saat pertama kali bertemu lelaki itu. Selembar bukti bisu bahwa ia adalah gadis istimewa yang benar-benar nyata baginya. Si gadis diliputi penyesalan luar biasa, namun ke manapun ia menoleh mencari-cari sosok aneh itu - sosok aneh yang ternyata sangat ia cintai - ia tidak bisa menemukannya lagi.
Man have their own way to show their feelings,
with meaningful silence..
and man with his ego...
(Quote from: nicholasjeremyhuangchannel)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar